DISHUB BANTEN JUAL KARCIS BODONG KE PENGENDARA RODA 4 SEBESAR 10 RIBU PER MOBIL. DI OERKIRAKAN TIAP HARI MERAUP 60 JUTAAN. | WWW.JAKARTAKOMA.COM
google.com, pub-5357973904361497, DIRECT, f08c47fec0942fa0

DISHUB BANTEN JUAL KARCIS BODONG KE PENGENDARA RODA 4 SEBESAR 10 RIBU PER MOBIL. DI OERKIRAKAN TIAP HARI MERAUP 60 JUTAAN.

Banten, jakartakoma.com

Dinas perhubungan propinsi Banten Pungli pengendara mobil yang menuju arah masjid Agung atau Banten lama tepatnya di Makon Hasanudin Desa Kapling, kamis (18/04).

Semua kendaraan ruda 4 yang merupakan uju arah Banten lama di pegat menggunakan akan portal bambu dan disuruh belok ke kiri.

Lalu di berikan karcis oleh seorang laki laki memakai kaos hitam lecek bertuliskan Dishub dan bertopi hitam juga ada lambang dan tulisan dishub.

“Pengendara sempat bersitegang sama orang yang memberikan karcis, silahkan silakan uang 10 ribu bayar sama bapak itu 2 orang yang memakai seragam dishub lalu mutar dan balik kiri lurus sampai ke masjid Agung”, ujar pria ini sambil meninggalkan pengemudi.

Karna Bukan tujuan ziarah ke makom Hasanudin anak dari Tubagus Hasanudin tiba tiba 2 orang memakai seragam Dishub nyamperin.

Silahkan bayar 10 ribu lalu jalan mutar ujar ke dua orang yang memakai seragam dishub terlihat dalamoakaian kumel.

Sebelum bayar sempat di pertanyakan. Karcis apa ini kok ga resmi, ga ada aetempelnya dishub.

Peraturan dari mana orang mau lewat di suruh bayar 10 ribu.

Jawab ke dua pegawai beeseeagam dishub. Ini sudah biasa rutin di lakukan tugas dari atasan ujar ke dua pegawai dishub yang memakai seragam.

Kalian bisa bertanggung jawab pungutan ini ujar Awak media di jawab,

” Iya saya tanggung jawab karena perintah atasan”, ujarnya.

Karena sudah, Macet pa jang akirnya mengalah maju lalu mutar dan berkomunikasi dengan pengendara Kijanginova no pol BE.

Menurut lay siregar. Tak tau lah bang. Masa mau. Lewat di suruh mutar dan bayar. Mungkin dishub nya lagi lapar kali bang ujar lay Regar.

Begitu pengendara yaris hitam dari lebak dan pengendara agya dari malimping. Tujuan kami mau ke masjid Agung.

Tapi di suruh belok kesini juga dipaksa bayar 10 ribu. Trus ini. Kita kemana ujar pengendara yaris.

Terlihat pengemudi toyota ras dan avanza juga kebingungan setelah belok bundaran karna kami masih penasaran dengan pungutan dishub.

Setelah maju 4 meter kendaraan akan belok ke. Kiri di hadang laki laki badan jelas memakai kaos dishub kumel dan topi dishub yang sudah pudar meminta karcis yang barusan di bayar 10 Ribu.

Awak media sempat bersitegang. Buat apa karcis di minta lagi kan sudah saya bayar 10 ribu. Ini hak kami ujar awak media.

Penjaga karcis ngotot kalau sudah bayar dan. Mutar balik karcis harus di serahkan ke dirinya lagi.
Ini praturan dari mana ujar awak. Media.

Praturan kami orang dishub yang membuat. Mana karcisnya ujarnya sambil melotot. Karna rak. Mau ribut dan kendaraan sudah macet dari pintu masuk sampai putaran ke pintu kluar awak. Media tidak. Mau menyerahkan karcis.

Itu orang dishub ngapain ada si sini ngambilin uang karcis 10 Ribu ujar awak media. Itu orang dishub sedang sidak ujar laki laki yang meminta karcis keluar.

Itu ka bukan PNS. Ngapain sidak. Apa jabatanya kejar awak media. Dia urusan dari dishub pusat bantah pe jaga karcis karna bersitegang laki laki yang meminta karcis minta bantuan orang yang memakai seragam dishub. Karna di pos pungli tersebut ada 4 orang berseragam dishub.

Setelah melanjutkan perjalanan ke masjid Agung jam 13 sore kendaraan awak Media kembali karna tidak dapat tempat parkir.

Ternyata pungli yang di lakukan petugas dishub memang Liar. Karna penasaran awak media konfirmasi ke masyarakat setempat.

Menurut pemuda memakaipeci ala anak kobong ini yang tidak mau namanya di sebut. Itu pungutan Liar pak. Mereka itu ada disini klau hari hari ramai.

Mereka semenjak hari raya pertama sampai hari ini senin 16 april sudah mungur kendaraan yang lewat. Banyak pak itu mobil bisa ribuan tiap hari.

Dari pagi sampai pagi lagi ujarnya sambil pamitan mau ke Masjid.

Suryadi waega setempat juga mengatakan. Itu orang dishub sudah biasa melakukan pu hutan kalau hari hari ke agamaan.

Kalau sepi mereka juga ga kelihatan muka ya bang ujar Suryadi. Kami sebenarnya juga ga suka dengan cara mereka memaksa kendaraan yang lewat di suruh bayar10 Ribu alasan putar dulu.

Itu karcis di ambil lagi nanti di kasih ke pengemudi yang lain. Itu karcis mutar itu itu aja ujar suryadi.

Di putaran itu ada MAKOM Hasanudin. Anaknya Tubagus Hasanudin yang ada di Banten lama atau di area masjid Agung. Itu MAKOM. Tidak boleh di Ziarahi.

Kalau ketahuan pemerintah di bubarin. Sudah sering orang pada ziarah di situ di bubarin. Ga boleh ziarah di situ. Ziarah nya di dalam. Aja (masjid Agung) ujar Supriyadi.

Itu mah akal akal orang orang dishub mencari duit memanfaatkan kendaraan orang lewat.
Orang dishub mah urusanya sama angkot bang.

Bukan sama mobil pribadi apalagi pakai karcis bodong. Itu kan karcis ga ada lambang dishub nya dan tidak ada aetempelnya ujar Suryadi.

Menurut Suryadi, Anak TB Hasanudin di makamkan di Desa Kapling sedangkan TB hasanudin makamnya masuk keresidenan Banten ujar Suryadi.

Dalam oa tauan awak media perugaa dishub yang pu gli ini dari pagi sampai malam. Karna jam 17 mereka masih menjaga bambu supaya kendaraan yang lewat belok ke Kiri dan membayar karcis 10 Ribu.

Pungli dishub ini di oerkirakan perharinya bisa mendapatkan 40 juta sampai 60 juta. Karna di perediksi kendaraan yang masuk ke arah masjid Agung Ribuan.

Dari kantong kantong parkir sampai pasar penuh bejubel kendaraan roda 4. Bahkan dalam pantauan sampai pukul 24 malam kendaraan masih Ribuan di kantong kantong parkir yang di jaga masyarakat.

Sampai berita ini di turunkan belum bisa konfirmasi ke Dinas Perhubungan propinsi Banten.

Di kemanakan uang pungutan. Liar dari pengendara kendaraan roda 4 yang lewat akan Memasuki tempat wisata Banten Lama atau yang sudah terkenal masjid Agung Banten atau Kesultanan Banten

( Redaksi )

Berita Lainnya  Selaku Pengacara Pedagang Pasar Kutabumi, Kamarudin mengingatkan Perumda Pasar NKR.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses